Cara menghasilkan uang dari blog

Minggu, 26 Februari 2017

JADILAH ULAMA AHLI FIQH DAN ULAMA AHLI TASAWUF

Di dalam kitab “Diwan al-Imam asy-Syafi’i” pada halaman 177,  Imam Syafi’i menganjurkan agar umat Islam mempelajari, memahami dan menguasai ilmu fiqih dan ilmu tasawuf, sehingga di kemudian hari dapat menjadi seorang pakar fiqih dan pakar tasawuf yang mampu membimbing ummat kepada jalan yang lurus dan diridhoi Allah SWT dengan keterangan sebagai berikut: قال الامام محمد بن ادريس الشافعي : صحبت الصوفية عشر سنين . ما استفدت منهم الا هذه الحرفين : الوقت سيف . و من العصمة أن لا تقدر
Artinya:
=====
“Berkata Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i: Aku bersahabat dengan kaum sufi (pakar tasawuf) selama sepuluh tahun. Tidak ada yang dapat kuambil faedah dari mereka kecuali dua perkara, yaitu: 1. Waktu bagaikan pedang, dan 2. Dari pemeliharaan Allah engkau tidak akan mampu menentang-Nya.”
Di dalam masalah anjuran menjadi pakar fiqih dan tasawuf, beliau, radiyallahu ‘anhu, berkata di dalam sya’irnya:
فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا ### فانى و حق الله اياك أنصح
فذلك قاس لم يذق قلبه تقى ### و هذا جهول كيف ذو الجهل يصلح؟
Artinya:
=====
“Maka, jadilah engkau sebagai pakar fikih dan tasawuf ! Dan “Faqih dan Sufi” bukanlah satu makna.
Maka, sesungguhnya aku dan hak Allah memberikan nasehat kepadamu.
Itulah orang yang berhati keras di mana hatinya tidak bisa merasakan takut kepada Allah,
Dan, inilah orang bodoh yang hatinya kosong dari ma’rifatullah. Dan, bagaimana orang bodoh akan membawa kemashlahatan (kebaikan) di kemudian hari?.”
SYI’IR DARI IMAM ASY-SYAFI’I
مَا فِي الْمُقَامِ لِذِي عَقْلٍ وَذِي أَدَبِ # مِنْ رَاحَةٍ فَدَعِ الأَوْطَانَ وَاغْتَرِبِ
سَافِرْ تَجِدْ عِوَضاً عَمَّنْ تُفَارِقُهُ # وَانْصَبْ فَإنَّ لَذِيذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ
إِنِّي رَأَيْتُ وُقُوْفَ المْـَاءِ يُفْسِدُهُ # إِنْ سَاحَ طَابَ وَإنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبِ
وَالْأَسْدُ لَوْلَا فِرَاقُ الأَرْضِ مَا افْتَرَسَتْ # والسَّهْمُ لَوْلَا فِرَاقُ الْقَوْسِ لَمْ يُصِبِ
Berdiam diri bagi orang berakal dan berperadaban bukanlah sebuah kenyamanan, karenanya beranjaklah dari kampung halaman.
Berkelanalah, akan kau temukan ganti untuk orang-orang yang kau tinggalkan. Dan berjuanglah, karena kenikmatan hidup ada dalam perjuangan.
Aku lihat, diamnya air akan membusukkannya. Jika mengalir, air menjadi segar, dan jika menggenang, air menjadi comberan.
Singa jika tak mengembara, tak akan menjadi raja rimba. Dan anak panah jika tak lepas dari busurnya, tak akan menggoreskan luka.

KEBODOHAN SPIRITUAL: MENYEMBAH KEAKUAN KITA SENDIRI DI ATAS KEAKUAN GUSTI ALLAH

Setiap orang diberi kecerdasan spiritual menurut kadar yang telah ditentukan. Repotnya, setiap orang malah memelihara dan menjaga dengan rapi kebodohan spiritualnya. Bagaimana agar kebodohan kita tidak dominan?
Masih ingat Firaun yang akhirnya sadar bahwa dia manusia biasa? Firaun yang selama hidupnya mengaku Tuhan dan memaksakan kehendak kepada rakyat akhirnya harus karam di laut merah. Saat terakhir akan diemut lautan ganas itulah, dia baru sadar ketidakberdayaannya. Kebodohan Firaun ini harus ditebus dengan kegagalan dia untuk bertaubat. Taubat yang terlambat, sama saja dengan tidak bertaubat dan dia digolongkan Tuhan sebagai manusia yang gagal dalam hidup.
Dari segi sumber daya manusia (SDM) Firaun tidak kekurangan suatu apa. Dia cerdas dan lihai. Buktinya, dia bisa juga menjadi raja dalam jangka waktu sekian lama. Kecerdasan emosinya juga baik karena saat dia menghukum siti Masyitoh dengan memasukkan ke belanga besar yang diisi air mendidih, dia masih menawarkan Masyitoh untuk kembali mengakui Firaun sebagai Tuhan. Namun, kecerdasan spiritual yang rendahlah, yang akhirnya tidak menyelamatkan akidahnya. Dengan kata lain kebodohan spiritualnya lebih dominant dari kecerdasan spiritual.
Apa itu kecerdasan spiritual? Kecerdasan spiritual adalah tingkat kesadaran manusia untuk mengakui sesuatu yang adikodrati, mengakui sesuatu yang transenden, mengakui ada sesuatu yang menciptakan segala yang ada. Sesuatu itu tidak diciptakan lagi oleh sesuatu yang lain. “Sesuatu” yang tidak bisa dinalar oleh akal pikiran karena keberadaannya yang mengatasi hukum alam karena “Sesuatu” itu berada di “luar alam” namun berada di “dalam alam” (imanen), bahkan tidak “berjarak” dengan alam.
Sementare kebodohan spiritual saya definisikan sebagai tingkat kesadaran manusia yang tidak mengakui sesuatu yang adikodrati. Pikiran yang melulu hanya menganalisa gejala-gejala yang tampak di mata (benda-benda) dan menafikan atau menolak adanya kegiatan rasa/batin sebagai aktivitas kejiwaan untuk menemukan kebenaran. Gejala ini sangat tampak dari paham positivistik, materialisme yang akhirnya berakibat nihilisme.
Kalau kita amati, gejala umum masyarakat “modern” yang pandai untuk mengolah hidupnya dengan berbagai teknologi untuk berperilaku “modern” justeru kebingungan untuk menata pandangan hidup yang jauh dan mendalam. Pandangan hidup masyarakat modern umumnya sekular, menjauhkan hal-hal yang sifatnya spiritual dengan urusan dunia. Urusan dunia bahkan lebih cenderung dinomorsatukan sementara urusan akhirat yang abstrak biasanya dinomorsekiankan. Ya, masyarakat modern lebih dominant kebodohan spiritualnya daripada kecerdasan spiritual.
Kenapa soal-soal spiritual semacam ini ditulis berulang-ulang dalam blog kita ini? Terus terang… mumpung masih ada waktu untuk merenung, mumpung masih punya kesempatan untuk membelokkan orientasi hidup yang keliru, mumpung kita masih hidup. Siapa yang menjamin bahwa saya dan Anda besok masih bisa bangun dari tidur? Siapa yang bisa menjamin bahwa besok kita masih bisa membaca dan menulis di blog? Yang bisa menjamin hanyalah Sang Pemilik dan Perancang Hidup. Tuhan semesta alam yang Maha Tahu rencana-rencana di balik keberadaan saya dan Anda diciptakan di dunia ini.
Menyadari akibat bila kita salah memikirkan sesuatu, menyadari akibat bila otak kita secara tidak sadar hanya dijejali oleh “urusan-urusan” yang tidak ada sangkut pautnya dengan RENCANA TUHAN pada kita, akan mengakibatkan kita mendapatkan KESADARAN. Kesadaran untuk memanfaatkan waktu yang tersisa untuk hidup ini untuk menyelesaikan peta/desain awal kenapa kita diciptakan yaitu untuk rahmat bagi seluruh alam semesta karena kita adalah WAKIL yang ditunjuk-Nya untuk menyelesaikan agenda-agenda besar ketuhanan.
Apa agenda-agenda besar ketuhanan itu?
• Pertama, Merencanakan Penciptaan Sesuatu dari Ketiadaan
• Kedua, Memproses terciptanya Ciptaan atau mengadakan sesuatu
• Ketiga, Memelihara Penciptaan dengan hukum-hukum kepastian Tuhan
• Keempat, Menuntaskan Penciptaan dengan menempatkan kembali pada ketiadaan
Kembali pada tema Kebodohan spiritual. Kebodohan spiritual tidak sampai menjangkau hal-hal yang abstrak tersebut. Akal dan pikiran hanya disibukkan dengan, misalnya, bagaimana caranya mendapatkan keuntungan dan uang sebanyak-banyaknya untuk dinikmati. Uang adalah raja atau bahkan tuhan di dunia ini. Dengan uang, kebahagiaan bisa dibeli. Inilah cara berpikir kaum rasionalistis, pragmatis, hedonis, cara berpikir rasional yang dilanjutkan dengan pada praktek yang tujuan akhirnya hanyalah pada kebahagiaan di dunia saja.
Padahal, ada begitu banyak hal yang abstrak di sekeliling manusia. Bahkan, bukankah manusia adalah makhluk yang abstrak dan justeru yang abstrak itu menjadi dasar yang primer dari hal yang kongkret? Kenapa pada akhirnya yang kongkret saja yang menjadi fokus otak kita bahkan kemudian menjadi dominan? Duh manusia, kapan kau akan sadar bahwa sejatinya kebahagiaanmu tidak ditentukan oleh “adanya” sesuatu. Namun ditentukan oleh bagaimana kau mensikapi “adanya” sesuatu itu untuk disesuaikan dengan agenda-agenda besar ketuhanan tadi.
Adanya mobil di rumahmu yang mewah tidak akan mampu membuat hatimu senang untuk jangka waktu yang lama. Pada suatu saat, kau akan jenuh dan bosan sehingga kau berniat untuk menjualnya dan menggantikannya dengan yang lebih baru. Atau malah membeli lagi mobil yang lebih nyaman dan mewah. Begitu seterusnya, sehingga dunia ini penuh dengan mobil-mobilmu yang tidak terbatas. Bumi jadi penuh polusi asap nafsumu. Hingga umurmu berakhir untuk sesuatu yang kongkret (benda mobil) padahal adanya mobilmu karena nafsumu/keinginan memiliki (yang abstrak)….
Inilah gejala kebodohan spiritual yang menjadi tanda-tanda kiamat. Nilai-nilai keabadian yang telah dijungkirbalikkan oleh manusia kemudian pada suatu saat akan menjungkirbalikkan kembali tataran yang telah sedemikian polutif. Inilah momentum kiamat akbar yaitu ujung hancurnya nilai-nilai ketuhanan. Sementara momentum kiamat kecil adalah hancurnya nilai-nilai ketuhanan yang telah diinstal dalam otak kita saat kita masih belum dilahirkan oleh ibu kita. Yaitu tatkala ruh kita telah meneken Memorandum of Understanding (MOU) dengan Tuhan… “Alastu Birobbikum Qaalu Bala Syahidna …” Hancurnya nilai-nilai ketuhanan itulah yang harus diwaspadai oleh kita semua.
Bagaimana menyelamatkan otak (hardware) yang berisi “file-file” pikiran dan keyakinan terhadap nilai-nilai ketuhanan yang telah sengaja dirusak oleh kita sendiri?
Ada satu hal yang bisa mengubah kita menjadi baik. Yaitu mulailah sekarang dan disini. Saat saya menulis ini dan Anda membacanya, yakinlah bahwa ini adalah “Petunjuk Allah SWT” telah datang pada kita untuk menyadari kebodohan spiritual yang selama telah kita pendam, kita jaga dan kita rawat baik-baik. Selanjutnya akan disusul dengan menata niat untuk bertaubat. Menyadari kesalahan dan kebodohan itu dan seterusnya melangkah berdasarkan agenda-agenda Tuhan kepada kita semua.
Maka, Just do it!!!, Laksanakan sekarang!!!
Ya, kita memang masih menjadi firaun-firaun yang menyembah “keakuan” kita sendiri di atas keakuan-Nya, Gusti Allah. Astaghfirullahal adzim…

MELEPASKAN KE-AKU-AN

Iblis itu adalah kita, kita yang bersifat keberadaan diri atau keberadaan sifat keakuan, manakala mereka yang bersifat ikhlas itu, adalah mereka yang bersifat ketiadaan diri ( tidak ada diri ). Bila mana sudah tidak ada sifat keberadaan diri, maka tidak ada lagi sifat keakuan.
Bilamana sifat keakuan atau sifat keberadaan diri itu sudah tidak ada, mana lagi adanya iblis, mana lagi adanya syaitan! Bilamana keberadaan diri telah tiada dari mana lagi datangnya godaan iblis atau syaitan pada diri.
Yang dikatakan iblis itu, adalah apabila adanya sifat aku atau yang masih adanya sifat keakuan ( masih ada diri ). Bagi mereka yang tiada sifat keakuan dan tidak ada sifat diri, mana lagi ada iblis dan mana lagi ada sifat goda menggoda!
Diri yang sudah hilang, sudah mati, dan diri yang sudah binasa, apa lagi yang boleh iblis nak goda!. Setelah semuanya telah dipulangkan kepada Allah, tidak ada apa-apa lagi yang tinggal, tersisa atau terbaki, apa lagi yang hendak syaitan atau iblis goda?.
Apakah bodoh sangat iblis itu, nak menggoda orang yang sudah mati. Iblis tidak sebodoh itu!. Sebenarnya iblis atau syaitan itu, adalah dirimu sendiri! Iblis itu, adalah diri kita yang masih ada sifat diri dan yang masih ada sifat keakuan.
Setelah tidak ada sifat keakuan, maka tidaklah adanya sifat iblis dan syaitan! Maka akan menyusullah sifat ingat kepada Allah. Bilamana sifat ingat kepada Allah telah mengambil tempat maka fana', baqo', lebur dan binasalah sifat diri, dengan syaitan-syaitan dan dengan iblis-iblis itu sekali akan binasa!
Bilamana sifat ingat kepada Allah telah meleburkan sifat iblis, maka itulah yang dikatakan tahap "IKHLAS" mana mungkin orang yang ikhlas dapat digoda iblis.
Orang ikhlas itu adalah orang yang dirinya sudah mati, binasa dan hilang. Bilama diri sudah mati, hilang ghaib didalam wajah Allah, apa lagi yang boleh iblis goda !. Apabila kita sudah berada didalam wilayah ikhlas ( alam mengenal diri ) tidak boleh lagi ada didalam diri kita sifat sombong, takabur, angkuh atau bongkak, segala-galanya Allah.
Masukkanlah Aku ke alam dari ego (s)
-----------------------------------------

Kami, kami yang dari alam keberadaan atau keakuan, anda memilih, itu adalah mereka yang tidak ada diri). Jika yang tidak memiliki sifat keberadaan, maka tidak ada lagi sifat keakuan.

Ketika keakuan alam atau alam dari keberadaan jiwa tidak ada lagi, dimana lagi keberadaan setan, di mana iblis! Kepercayaan diri adalah pergi dari mana datang setan atau godaan setan di dalam jiwa.

Setan adalah, ketika aku melihat alam atau karena sifat keakuan (masih ada).
keakuan adalah tempat iblis dan sifat dari goda menggoda!

Seseorang yang telah hilang, mati, dan jiwa yang telah dihancurkan, apa lagi yang dapat setan goda ?
iblis atau setan, adalah dirimu sendiri!
Setan itu sendiri bisa menggoda, karena masih adanya alam dan keakuan.

Setelah tidak adanya alam, akan menyusullah ingat kepada Allah, Ketika alam, alam telah melebur..

Ikhlas itu adalah manusia yang sudah mati, pergi. Bilama diri mati, pergi tersembunyi di wajah Allah, apa lagi yang dapat membuat setan menggoda?. Ketika kita beradadi alam-Nya. Tidak ada lagi dalam diri kita sifat sombong, angkuh, atau kesombongan , dan semuanya.

Sabtu, 25 Februari 2017

BAHLUL DAN TAHTA RAJA

anekdot sufi Bahlul, si tolol yang bijaksana, sering menyembunyikan kecendekiaannya di balik tabir kegilaan. Dengan itu, ia dapat keluar masuk istana Harun Al-Rasyid dengan bebasnya. Sang Raja pun amat menghargai bimbingannya.
Suatu hari, Bahlul masuk ke istana dan menemukan singgasana Raja kosong. Dengan enteng, ia langsung mendudukinya. Menempati tahta Raja termasuk ke dalam kejahatan berat dan boleh dihukum mati. Para pengawal menangkap Bahlul, menyeretnya turun dari tahta, dan memukulinya. Mendengar teriakan Bahlul yang kesakitan, Raja segera menghampirinya.
Bahlul masih menangis keras ketika Raja menanyakan sebab keributan ini kepada para pengawal. Raja berkata kepada yang memukuli Bahlul, “Kasihan! Orang ini gila. Mana ada orang waras yang berani menduduki singgasana Raja?” Ia lalu berpaling ke arah Bahlul, “Sudahlah, tak usah menangis. Jangan kuatir, cepat hapus air matamu.” Bahlul menjawab, “Wahai Raja, bukan pukulan mereka yang membuatku menangis. Aku menangis karena kasihan terhadapmu!”
“Kau mengasihaniku?” Harun mengherdik, “Mengapa engkau harus menangisiku?” Bahlul menjawab, “Wahai Raja, aku cuma duduk di tahtamu sekali tapi mereka telah memukuliku dengan begitu keras. Apalagi kau, kau telah menduduki tahtamu selama dua puluh tahun. Pukulan seperti apa yang akan kau terima? Aku menangis karena memikirkan nasibmu yang malang…

PEDAGANG SUFI

hikayat sufi Seorang guru mistik, setelah ia mencapai pengetahuan yang serba rahasia mengenai kebenaran sejati, yaitu pengetahuan yang hanya dapat dicapai oleh segelintir manusia, ia bermukim di Basrah.
Di sana ia memulai sebuah usaha dan dalam beberapa tahun saja telah memperoleh kemajuan.
Pada suatu hari seorang guru sufi yang telah mengenalnya beberapa tahun yang lalu, namun masih berada di atas jalan yang ditempuh oleh para pencari kebenaran, singgah di tempat kediamannya.
“Betapa gundah hatiku menyaksikan engkau yang telah meninggalkan pencarian dan jalan kaum mistik,” berkata sang guru sufi. Pedagang yang arif bijaksana itu hanya tersenyum dan tidak memberi komentar apa-apa.
Sang guru sufi kemudian meneruskan perjalanan dan didalam wejangan-wejangannya dikemudian hari ia sering kisahkan, betapa seseorang bekas sufi yang kemudian beralih kepada cita-cita yang rendah dalam dunia perdagangan karena ia tampaknya tak memiliki tekad yang perlu untuk menyelesaikan perjalanan.
Tetapi sang guru sufi pengelana ini akhirnya bertemu dengan Khaidir, sang penunjuk jalan rahasia. Si guru sufi memohon kepada Khaidir untuk mengantarkannya kepada guru arif bijaksana pada zaman itu, yang akan memberkahi terang ke dalam hatinya.
Khaidir berkata:
“Jumpailah seseorang pedagang anu, duduklah di kakinya, dan laksanakanlah kerja kasar yang disuruhnya”.
Sang guru sufi tidak habis pikir, iapun berkata dengan tergagap:
“Tetapi betapa mungkin bahwa pedagang itu adalah salah seorang dari manusia-manusia terpilih, apalagi sebagai guru agung zaman kini?”
Khaidir menjawab:
“Karena ketika ia mendapatkan terang ia pun telah berhasil memperoleh pengetahuan duniawi. Untuk pertama kali ia rnenyadari bahwa sikap manusia suci menarik orang-orang tamak yang berpura-pura mencari pengetahuan spirituil dan menolak orang-orang tulus yang tidak takjub kepada penampilan lahiriah. Aku telah menunjukkan kepadanya betapa guru-guru yang saleh dapat ditenggelamkan oleh pengikut-pengikutnya. Maka ia memberi pengajaran dengan diam-diam dan bagi orang-orang yang dangkal penglihatan ia hanyalah seorang pedagang biasa.”

KETIKA MUSA INGIN MELIHAT TUHAN

Nabi Musa as diatas Gunung SinaiNabi Musa ‘alaihis-salaam’ telah memenuhi panggilan Allah swt., ia pun menitipkan Bani Israil ke Nabi Harun as., saudaranya, untuk naik ke gunung Sinai (Thuursina), gunung Allah yang keramat itu. Setelah ia menyempurnakan 40 malam yang diisi dengan puasa dan beribadat sendirian di atas gunung itu, Allah swt. pun berfirman dan menurunkan Taurat kepadanya. Kemudian Nabi Musa as. pun sangat rindu untuk dapat melihat Wajah Sang Kekasih yang telah berkata-kata kepadanya, Wajah Rabb-nya.
“Dan tatkala Musa datang menurut waktu yang telah Kami tentukan, dan telah berfirman Rabb-nya kepadanya, berkatalah ia: ‘Ya Rabbi perlihatkanlah (Diri-Mu) kepadaku, agar aku dapat memandang Engkau’. Berkatalah Allah: ‘Engkau sekali-kali tidak akan mampu untuk melihat-Ku, akan tetapi arahkanlah pandangan (engkau) ke gunung itu, maka jika ia tetap pada tempatnya niscaya engkau dapat melihat-Ku!’.”, QS.Al-’Araaf.[7]:143.
Setelah mendengar permintaan Nabi Musa as. itu, kemudian Allah swt. berfirman: “Wahai putra Imran, sesungguhnya tidak akan ada seorang pun yang sanggup untuk melihat-Ku, kemudian ia mampu untuk tetap hidup!”
Nabi Musa as. berkata: “Rabbi, tidak ada sesuatu pun yang menyekutui-Mu, sesungguhnya melihat-Mu dan kemudian mati itu lebih aku sukai daripada aku terus hidup dengan tanpa melihat-Mu! Rabbi, sempurnakanlah nikmat, anugrah, dan hikmat-Mu kepadaku dengan mengabulkan permohonanku ini, setelah itu aku rela mati!”
Ibnu Abbas ra., sahabat Rasulullah saw., meriwayatkan bahwa ketika Allah swt. mengetahui bahwa Nabi Musa as. ingin sekali permohonannya dikabulkan, maka berfirmanlah Allah swt.: “Pergilah engkau, dan lihatlah batu yang ada di atas puncak gunung itu, duduklah engkau di atas batu itu, kemudian Aku akan menurunkan balatentara-Ku kepadamu!”
Nabi Musa as. pun melaksanakan perintah Allah swt. tersebut. Dan ketika ia telah berada di atas batu itu, Allah swt. pun memerintahkan balatentara-Nya, para Malaikat hingga langit ketujuh, untuk menampakkan diri kepadanya.
Diperintahkan-Nya para Malaikat penghuni langit dunia untuk menampakkan diri di hadapan Nabi Musa as. Mereka pun berlalu di hadapan Nabi Musa as. sambil mengeraskan suara tasbih dan tahlil mereka, bagaikan suara petir yang menyambar-nyambar.
Kemudian, para Malaikat penghuni langit kedua diperintahkan-Nya untuk menampakkan diri di hadapan Nabi Musa as., mereka pun melaksanakannya. Mereka berlalu di hadapan Nabi Musa as. dengan warna dan bentuk yang beraneka ragam. Mereka ini bersayap dan memiliki raut muka, diantara mereka ada yang berbentuk seperti singa. Mereka mengeraskan suara-suara tasbihnya.
Mendengan teriakan suara itu, Nabi Musa as. pun merasa ngeri, dan kemudian berkata: “Ya Rabbi, sungguh aku menyesal atas permohonanku. Rabbi, apakah Engkau berkenan untuk menyelamatkan aku dari tempat yang aku duduki ini?”
Pimpinan dari kelompok Malaikat tersebut berkata: “Hai Musa, bersabarlah atas apa yang engkau minta, apa yang engkau lihat ini baru sebagian kecil saja!”
Allah swt. kemudian memerintahkan para Malaikat penghuni langit ketiga agar mereka turun dan menampakkan diri di hadapan Nabi Musa as. Lalu, keluarlah Malaikat-malaikat yang tak terhitung jumlahnya dengan beragam bentuk dan warnanya. Bentuk mereka ada yang seperti api yang menjilat-jilat, mereka memekikkan tasbih dan tahlil dengan suara yang hiruk-pikuk.
Mendengar suara ini semakin terkejutlah Nabi Musa as. dan timbullah rasa su’udzdzan dalam dadanya, bahkan berputus asa untuk hidup. Kemudian pemimpin para Malaikat dari kelompok ketiga ini berkata: “Wahai putra Imran, bersabarlah hingga engkau melihat lagi apa yang engkau tidak sanggup lagi untuk melihatnya!”
Allah swt. kemudian menurunkan wahyu kepada para Malaikat penghuni langit keempat, “Turunlah kamu sekalian kepada Musa dengan mengumandangkan tasbih!”
Para Malaikat langit keempat ini pun turun. Diantara mereka ada yang berbentuk seperti kobaran api yang menjilat-jilat, dan ada pula yang seperti salju. Mereka mempunyai suara yang melengking dengan mengumandangkan tasbih dan taqdis. Suara mereka berbeda dengan suara Malaikat-malaikat terdahulu. Kepada Nabi Musa as. ketua dari kelompok ini berkata: “Hai Musa! Bersabarlah atas apa yang engkau minta!”
Demikianlah, penghuni dari setiap langit hingga penghuni langit ketujuh satu demi satu turun dan menampakkan diri di hadapan Nabi Musa as. dengan warna dan bentuk yang beragam. Semua Malaikat tersebut bergerak maju sambil cahayanya menyambar semua mata yang ada. Mereka ini datang dengan membawa tombak-tombak panjang. Setiap tombak itu panjangnya sepanjang sebatang pohon kurma yang tinggi dan besar. Tombak-tombak itu bagaikan api yang bersinar terang-benderang melebihi sinar matahari.
Nabi Musa as diatas Gunung SinaiNabi Musa as. menangis sambil meratap-ratap, katanya: “Ya Rabbi, ingatlah aku, jangan Engkau lupakan diriku ini! Aku adalah hamba-Mu! Aku tidak mempunyai keyakinan bahwa aku akan selamat dari tempat yang aku duduki ini! Jika aku keluar, aku akan terbakar, dan jika aku tetap di tempat ini maka aku akan mati!”
Ketua kelompok Malaikat itu pun berkata kepada Nabi Musa as.: “Nyaris dirimu dipenuhi dengan ketakutan, dan nyaris pula hatimu terlepas! Tempat yang kamu gunakan untuk duduk inilah merupakan tempat yang akan kamu pergunakan untuk melihat-Nya!”
Kemudian turunlah Malaikat Jibril as., Mika’il as., dan Israfil as. beserta seluruh Malaikat penghuni ketujuh langit yang ada, termasuk para Malaikat pemikul Al-’Arsy dan Al-Kursi. Mereka secara bersama-sama menghadap kapada Nabi Musa as. seraya berkata: “Wahai orang yang terus-menerus salah! Apa yang menyebabkanmu naik ke atas bukit ini? Mengapa kamu memberanikan diri meminta kepada Rabb-mu untuk dapat melihat kepada-Nya!?”
Nabi Musa as. terus menangis hingga gemetaranlah kedua lututnya, dan seakan-akan luruh tulang-tulang persendiannya.
Ketika Allah swt. melihat semua itu, maka ditampakkan-Nya lah kepada Nabi Musa as. tiang-tiang penyangga Al-’Arsy, lalu Nabi Musa as. bersandar pada salah satu tiang tersebut sehingga hatinya menjadi tenang.
Malaikat Israfil kemudian berkata kepadanya: “Hai Musa! Demi Allah, kami ini sekalipun sebagai pemimpin-pemimpin para Malaikat, sejak kami semua diciptakan, kami tidak berani untuk mengangkat pandangan mata kami ke arah Al-’Arsy! Karena kami sangat khawatir dan sangat takut! Mengapa kamu sampai berani melakukan hal ini wahai hamba yang lemah!?”
Setelah hatinya tenang, Nabi Musa as. menjawab: “Wahai Israfil! Aku ingin mengetahui akan Keagungan Wajah Rabb-ku, yang selama ini aku belum pernah melihatnya”
Allah swt. kemudian menurunkan wahyu kepada langit: “Aku akan menampakkan-Diri, bertajalli pada gunung itu!”
Maka bergetarlah seluruh langit dan bumi, gunung-gunung, matahari, bulan, mega, surga, neraka, para Malaikat dan samudera. Semua tersungkur bersujud, sementara Nabi Musa as. masih memandang ke arah gunung itu.
“Tatkala Rabb-nya menampakkan Diri (bertajalli) di atas gunung itu, maka hancur luluh lah gunung itu dan Musa pun jatuh pingsan”, QS.Al-’Araaf.[7]:143.
Nabi Musa as. seakan-akan mati karena pancaran Cahaya Allah swt. Yang Mulia, dan ia terjatuh dari batu, dan batu itu sendiri terjungkal, terbalik menjadi semacam kubah yang menaungi Nabi Musa as. agar tidak terbakar Cahaya.
Kemudian Allah swt. mengutus Malaikat Jibril as. untuk membalikkan batu itu dari tubuh Nabi Musa as., dan membimbingnya berdiri. Wajah Nabi Musa as. memancarkan cahaya kemuliaan, rambutnya memutih karena Cahaya.
“Maka setelah Musa tersadar kembali, dia berkata: ‘Maha Suci Engkau, aku sungguh bertaubat kepada-Mu, dan aku adalah orang yang pertama kali beriman!”, QS.Al-’Araaf.[7]:143.
Nabi Musa as. bertaubat atas apa yang ia minta, dan ia berkata: “Saya beriman, bahwa sesungguhnya tidak ada seorang pun yang akan mampu melihat-Mu dengan mata lahir, kecuali ia akan mati!”
Diadaptasi dari terjemahan kitab “Mukhtashar Kitaabit-Tawwabiin“, karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisy.

MUSYAWARAH PARA BURUNG

musyawarah burung 4Dikisahkan, segala burung di dunia, yang dikenal atau tidak dikenal, datang berkumpul. Mereka sama-sama memiliki satu pertanyaan, siapakah raja mereka? Di antara mereka ada yang berkata, “Rasanya tak mungkin negeri dunia ini tidak memiliki raja. Maka rasanya mustahil bila kerajaan burung-burung tanpa penguasa! Jadi, kita semua memiliki Raja, ya, Raja.”
Semua burung tertegun, seperti ada keraguan yang mengawang-awang.
“Keadaan semacam ini tak bisa dibiarkan terus menerus. Hidup kita ini akan percuma bila sepanjang hayat kita, kita tidak pernah mengetahui, dan mengenal siapa Raja kita sesungguhnya.”
Masing-masing dari mereka masih berfikir dan terdiam. Lalu kembali ada yang berteriak, “Lalu apa yang harus kita lakukan?”
musyawarah burung 1“Tentu saja kita harus berusaha bersama-sama mencari seorang raja untuk kita semua; karena tidak ada negeri yang memiliki tatanan yang baik, tanpa seorang raja.· Mereka pun mulai berkumpul dan bersidang untuk memecahkan persoalan. Burung Hudhud dengan semangat dan penuh rasa percaya diri, tampil ke depan dan menempatkan diri di tengah majelis burung-burung itu. Di dadanya tampak perhiasan yang melambangkan bahwa dia telah memiliki pancaran ruhaniah yang tinggi. Dan jambul di kepalanya tegak berdiri mahkota yang melambangkan keagungan dan kebenaran, dan dia juga memiliki pengetahuan luas tentang baik dan buruk.
Burung-burung sekalian, kata Hudhud, kita mempunyai raja sejati, ia tinggal jauh di balik gunung-gunung Qaf. Ribuan daratan dan lautan terbentang sepanjang perjalanan menuju tempatnya. Namanya Simurgh. Aku kenal raja itu dengan baik, tapi aku tak bisa terbang sendiri menemuinya. Bebaskan dirimu dari rasa malu, sombong, dan ingkar. Dia pasti akan melimpahkan cahaya bagi mereka yang sanggup melepaskan belenggu diri. Mereka yang demikian akan bebas dari baik dan buruk, karena berada di jalan kekasih-Nya. Sesungguhnya Dia dekat dengan kita, tapi kita jauh dari-Nya.
musyawarah burung 3Dikisahkan, pada suatu malam sang Maharaja Simurgh terbang di kegelapan malam. Tiba-tiba jatuhlah sehelai bulunya yang membuat geger seluruh penduduk bumi. Begitu mempesonanya bulu Simurg hingga membuat tercengang dan terheran-heran. Semua penduduk gegap gempita ingin menyaksikan keindahan dan keelokannya. Dan dikatakan kepada mereka, “Andaikata sehelai bulu tersebut tidak jatuh, niscaya tidak akan ada makhluk yang bernama burung di muka bumi ini.”
Kemudian burung Hudhud melanjutkan pembicaraannya, bahwa untuk menggapai istana Simurg mereka harus bersatu, saling bekerja sama dan tidak boleh saling mendahului. Setelah mendengar cerita yang disampaikan oleh burung Hudhud, semua burung-burung bersemangat ingin sekali secepatnya pergi menghadap sang Maharaja Simurg. Namun, burung Hudhud menambahkan, bahwa perjalanan menuju istana Simurg tidak semudah yang dibayangkan, melainkan harus melewati ribuan rintangan dan guncangan dahsyat. Perjalanan juga sarat dengan penderitaan, kepedihan dan kesengsaraan.
“Apakah kalian sudah siap ?” kata burung Hudhud, menguji keseriusan mereka. Setelah mereka mendengarkan penjelasan bagaimana suka dukanya, pahit getirnya perjalanan menuju istana Simurg, ternyata semangat sebagian burung menjadi pudar dan turun.
musyawarah burung 2Namun, di antara burung-burung, ada seekor burung Kenari yang memberanikan diri menyampaikan pendapatnya, “Aku adalah Imamul Asyiqin, imamnya orang-orang yang asyik dan rindu. Aku sangat keberatan untuk ikut berangkat, bagaimana nanti orang-orang rindu dengan kemerduan kicauanku bila aku harus meninggalkan mereka. Bagaimana mungkin aku dapat berpisah dari kembang-kembang mekarku ?” demikian alasan burung Kenari.
Selanjutnya, burung Merak berkata, “Dulu aku hidup di syurga bersama Adam, lantas aku diusir dari syurga, rasanya aku ingin kembali ke tempat tinggalku lagi. Karena itu, aku tidak mau ikut dalam rombongan.”
Kemudian disusul oleh Itik, “Aku sudah biasa hidup dalam kesucian, dan aku juga terbiasa berenang di tempat yang kering kerontang. Aku tidak mungkin hidup tanpa air,” kilah Itik.
Begitu juga burung Garuda, “Saya sudah biasa hidup senang di gunung, bagaimana mungkin aku sanggup meninggalkan tempatku yang menyenangkan”, alasan Garuda.
Kemudian disusul burung Gelatik, “Aku hanya seekor burung kecil, dan lemah, takkan mungkin sanggup ikut mengembara sejauh itu,” kata burung Gelatik.
Lantas burung Elang ikut menyahut, “Semua orang sudah tahu kedudukanku yang tinggi ini, maka tidak mungkin aku meninggalkan tempat dan kedudukan yang mulia ini, ” kata burung Elang.
Burung Hudhud sebagai pemimpin sangat bijak dan sabar mendengar semua keluhan dan alasan burung-burung yang enggan berangkat. Namun demikian, burung Hudhud tetap bersemangat memberikan dorongan dan motivasi kepada mereka. “Kenapa kalian harus berberlindung di balik dalil-dalil nafsumu, sehingga semangatmu yang sudah membara menjadi padam? Padahal kalian tahu bahwa perjalanan menuju istana Simurgh adalah perjalanan suci, kenapa harus takut dan bimbang dengan prasangka yang ada pada dirimu?” ucap Hudhud.
Kemudian ada seekor burung menyela, “Dengan cara apa kita bisa sampai ke tempat Maharaja Simurgh yang jauh dan sulit itu? “Dengan bekal himmah (semangat) yang tinggi, kemauan yang kuat, dan tabah menghadapi segala cobaan dan rintangan. Bagi orang yang rindu, seperti apapun cobaan akan dihadapi, dan seberapa pun rintangan akan dilewati. Perlu diketahui bahwa Maharaja Simurg sudah jelas dan dekat, laksana matahari dengan cahayanya,” jawab Hudhud meyakinkan. Sabarlah, bertawakkallah, karena bila kalian telah sanggup menempuh perjalanan itu, kalian akan tetap berada dalam jalan yang benar,·demikian lanjut Hudhud.
Setelah itu, bangkitlah semangat burung-burung seolah-olah baru saja mendapatkan kekuatan baru untuk terus melangkah menuju istana Simurg. Akhirnya, burung-burung yang berjumlah ribuan sepakat untuk berangkat bersama-sama tanpa satupun yang tertinggal.
Perjalanan panjang telah dimulai, perbekalan telah disiapkan. Burung Hudhud yang didaulat menjadi pemimpin mereka telah mengatur persiapan, dengan membagi rombongan menjadi beberapa kelompok. Setelah perjalanan cukup lama menembus lorong-lorong waktu, kegelisahan mulai datang menimpa mereka. “Mengapa perjalanan sudah lama dan jauh, kok tidak sampai-sampai?” guman mereka di dalam hati. Mulailah mereka dihinggapi rasa malas karena menganggap perjalanan terlalu lama, mereka bosan karena tidak lekas sampai. Perasaan mereka diliputi keraguan dan kebimbangan. Kemudian sebagian burung ada yang memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan.
Namun burung-burung lain yang masih memiliki stamina kuat dan himmah yang tinggi tidak menghiraukan penderitaan yang mereka alami, dan melanjutkan perjalanan yang maha panjang itu.
Tiba-tiba rintangan datang kembali, terpaan angin yang sangat kencang menerpa mereka sehingga membuat bulu-bulu indah yang dibanggakan berguguran. Kegagahan burung-burung perkasa pun mulai pudar. Kedudukan dan pangkat yang tinggi sudah tidak terpikirkan. Berbagai macam penyakit mulai menyerang mereka, kian lengkaplah penderitaan yang dirasakan oleh para burung tersebut. Badan mereka kurus kering, penyakit datang silih berganti membuat mereka makin tidak berdaya. Semua atribut duniawi yang dulu disandang dan dibanggakan, sekarang tanggal tanpa sisa, yang ada hanyalah totalitas kepasrahan dalam ketidak berdayaan. Mereka hanyut dalam samudera iradatullah dan tenggelam dalam gelombang fana’.
Pada akhirnya Cuma sedikit dari mereka yang benar-benar sampai ke tempat yang teramat mulia dimana Simurg membangun mahligainya. Dari ribuan burung yang pergi, tinggal 30 ekor yang masih bertahan dan akhirnya sampai di gerbang istana Simurgh. Namun kondisi mereka sangat memprihatinkan, tampak gurat-gurat kelelahan di wajah mereka. Bahkan bulu-bulu yang menempel di tubuh mereka rontok tak bersisa. Di sini terlihat, meski mereka berasal dari latar belakang berbeda, namun pada proses puncak pencapaian spiritual adalah sama, yaitu dalam kondisi telanjang bulat dan lepas dari pakaian basyariyah.
Kemudian di depan gerbang istana mereka beristirahat sejenak sambil mengatur nafas. Tiba-tiba datang penjaga istana menghampiri mereka, “Apa tujuan kalian susah payah datang ke istana Simurgh?” kata penjaga istana. Serentak mereka menjawab, “Saya datang untuk menghadap Maharaja Simurg, berilah kami kesempatan untuk bertemu dengannya.”
Tanpa diduga, terdengar suara sayup-sayup menyapa mereka dari dalam istana, “Salaamun qaulam min rabbir rahiim” sembari mempersilahkan mereka masuk ke dalam. Lalu mereka masuk secara bersama-sama. Kemudian terbukalah kelambu hijab satu demi satu yang berjumlah ribuan. Mata mereka terbelalak memandang keindahan yang amat mempesona, keindahan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, keindahan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Tatkala seluruh hijab tersingkap, ternyata yang dijumpai adalah wujud dirinya. Burung-burung pun saling bertanya dan terkagum-kagum, “Lho kok aku sudah ada disini?” begitu guman mereka dalam hati. Seolah-olah mereka berada di depan cermin sehingga yang ada adalah wujud dirinya. Maka datanglah suara lembut menjawabnya, “Mahligai Simurgh ibarat cermin, maka siapapun yang sampai pada mahligai ini, tidak akan melihat wujud selain wujud diri sendiri. Perjumpaan ini di luar angan dan pikirmu, dan juga tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, namun hanya dapat dirasakan dengan rasa. Karena itu, engkau harus keluar dari dalam dirimu sehingga engkau menjadi sosok pribadi Insan Kamil.”
Akhirnya, mereka memahami hakikat dirinya, setelah melewati tahapan fana’ billah hingga mencapai puncak baqa’ billah. Maka hilanglah sifat-sifat kehambaan dan kekal dalam ketuhanan.
Dikutip dari Majalah “KASYAF”.
Diadaptasi dari Buku “Musyawarah Para Burung“, karya Fariduddin Attar